Tips Membeli Rumah Pertama Anda
Tips Membeli Rumah Pertama Anda
Tips Membeli Rumah Pertama Anda
Cari rumah seperti cari jodoh, ‘cucuk-cucukan’, begitu kata para orang tua. Rumah pertama ibarat kekasih yang telah lama dirindukan. Rumah pertama berarti simbol pencapaian, simbol kesuksesan, dan pembuktian jerih-payah mencari nafkah. Rumah pertama berarti terbukanya lembaran hidup baru, bagi keluarga muda yang sudah bosan menginap di pondok mertua indah tapi bikin jengah. Rumah pertama berarti awal baru, setelah bosan tinggal di kontrakan yang meski bagus tapi bukan milik sendiri.
Agenda dimulai dengan berlangganan koran tiap akhir pekan, merunut iklan rumah dijual, kolom demi kolom, baris demi baris. Yang menarik akan dilingkari dengan bolpen, ditandai dengan stabilo. Yang tidak lolos kualifikasi akan dicoret dengan kejam. Lalu mulailah melaju di atas roda, menyambangi segenap pelosok, survei rumah-rumah yang ditawarkan tersebut satu per satu. Sembari menyiapkan uang muka, bisa dari membobol tabungan atau hasil patungan di mana keluarga, teman, saudara, bahkan mertua, semua dikerahkan.
Asyik, awalnya.
Bosan, lama-lama.
Capek, lalu ‘mutung’, alias putus asa. Cocok lokasinya, tak terjangkau harganya. Harganya masuk, modelnya sudah kuno. Cocok lokasi, harga, dan model, harus bayar kontan, tak bisa dikredit. Pusiiing … jadinya!
Barangkali, tips praktis di bawah ini bisa menjadi solusi dalam mencari rumah idaman:
Pertama, bertandang ke kantor developer perumahan. Biasanya mereka akan mengantarkan kita langsung ke lokasi. Di sini tersedia beberapa pilihan harga, tipe dan model. Bahkan selain rumah, ada juga yang menyediakan kasiba (kaveling siap bangun).
Kedua, mendatangi kantor broker profesional. Listing (daftar stok rumah) yang mereka miliki sangat membantu untuk kita pilih sesuai kriteria.
Broker bisa menaksir harga sehingga memperoleh harga wajar, tidak kemahalan. Mungkin ada selisih harga dibanding langsung beli pada pemilik, namun, legalitas lebih terjamin. Tuntutan profesionalitas seorang broker tidak memberi ruang untuk menjualkan rumah tanpa IMB, tanpa sertifikat. Selain itu, mereka juga punya “jurus andalan” layaknya pendekar properti. Broker memiliki kemampuan untuk menguruskan kredit, akta, pajak jual beli, dan hal-hal ribet lainnya. Jika rumah perlu direnovasi, broker bisa menghubungkan pihak kontraktor ataupun biro arsitek terpercaya. Di sini terlihat, betapa kita bisa sedikit ongkang-ongkang, berhemat akan waktu, energi dan pikiran. Bahkan, broker bisa mengusahakan agar KPR bisa diterima, tentunya dalam ihwal positif, misalnya dengan menguruskan Surat Tambahan Penghasilan dan merancang skema pembayaran yang memudahkan. Setidaknya, mengurangi kadar kecemasan akibat menanti ketuk palu persetujuan kredit dari bank.
Ketiga, ubah mindset. Cintai transaksinya, bukan objeknya. Utamakan perhitungan investasi dibandingkan alasan klasik seperti kenyamanan menghuni rumah tersebut. Apalagi hanya soal model atau fasad. Prioritaskan lokasi dibanding kondisi. Lebih baik membeli rumah yang jelek tapi berada di tengah kota, dibanding rumah bagus tapi di pinggiran. Namun, tetap utamakan membeli, daripada tidak membeli. Ungkapan mencintai tak harus memiliki tidak berlaku di dunia properti.
Keempat, tidak terlalu idealis. Rumah bagus yang strukturnya kokoh, tidak bocor, model terbaru, lokasi tengah kota, harga murah, kavelingnya luas, aksesibel, dilewati angkot, bisa di KPR-kan, tetangganya baik, banyak warung, dekat mal, pasar, dan kampus, penjualnya malaikat, brokernya cucu malaikat, terhidang dalam satu paket sekaligus, barangkali ada, namun entah berapa lama kita bisa mendapatkannya. Harga murah, berarti harus bertoleransi dengan letak di pinggiran. Rumah second, mungkin perlu menyiapkan dana renovasi. Rumah hasil take over dari kredit macet di bank, berkaitan dengan sedikitnya pilihan. Membeli pada pengembang, bermakna kesabaran menunggu rumah selesai terbangun. Dan seterusnya. Dunia ini nyata, segalanya tampil wajar dan berimbang.
Terakhir, berdoa, lalu tetapkan target harga rumah realistis sesuai dana dan beli sesegera mungkin. Durasi tiga bulan menjadi batas maksimal untuk membuat keputusan. Jangan terlalu memaksakan diri memperoleh rumah yang harganya jauh di atas isi dompet. Alih-alih bisa menjadi masalah baru dalam siklus keuangan kita. Soal rumah yang kecil, bisa diperbesar nanti. Namun, ada satu hal terpenting dan tak bisa ditoleransi, yaitu legalitas. Pastikan legalitas oke, lalu biarkan yang lain menyusul. Dengan demikian, kita telah menguasai aset lebih cepat karena nilai investasi properti terus melaju selayak deret ukur.
Selamat membeli rumah pertama, semoga beruntung!
( dikutip dari : http://propertytoday.co.id)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar